My Rifa

Ramadhan hari ke 16, saat sahur Rifa bilang sama aku “Bun, kayaknya adek dapet nih..”
katanya sambil memegang perutnya.
“Dapet ? maksudnya haid ?” tanyaku hampir tidak percaya, Usianya baru menginjak 11 tahun dan
masih duduk di kelas VI SD. Dia mengangguk ragu.
“mmm.. teruskan saja sahurnya, lihat nanti siang ya..” kataku sambil mengingat kembali apa yang
dilakukan mamaku dahulu saat aku pertama memasuki masa akil balig.
Siangnya, ternyata memang benar anakku sudah mendapatkan haid pertamanya.
Ya Allah, rasanya baru kemarin melihat dia masih bayi..
Lalu dengan sigap aku berusaha menerangkan A sampai Z tentang haid, Dia malah berkata “Adek
udah tahu bun.. dari internet..” santai saja dia sambil membatalkan puasanya.
Hiya.. lupa bahwa jaman sudah berubah, efek arus globalisasi yang tidak terbendung…
Abangnya heran “Kok adek gak puasa?”
“Iya adikmu udah masuk masa akil balik bang” kataku menerangkan abangnya yang hanya
selisih 1 tahun saja dari Rifa.
“Oooo..” sambil garuk-garuk kepala abangnya bertanya lagi “Bun, kok duluan adek akil baliq,
kok abang belum ya? ” Aku cuma tersenyum melihat komentar lucu si abang.

bhineka tunggal ika

Gempa.. Gempa!

Sibuk ber hape saat gempa

Siang itu jarum jam hampir mendekati angka 3, tiba-tiba meja kerja bergoyang, menengok kesamping, rekanku Budi setyadi juga menengok kearahku seolah bertanya apakah yang dia pikirkan sama dengan yang aku pikirkan: Gempa! Dan benarlah suasana mulai gaduh, beberapa rekan yang lain sudah bergegas keluar pintu menuju tangga darurat.

Sampai di lapangan terbuka, Yulia sibuk men-cek berita detik.com dari hapenya, ternyata gempa berkekuatan 7,3 richter yang berpusat di 142 km barat data tasikmalaya dengan kedalaman 30 km.

Gempa ini banyak menyisakan cerita lucu, salah satunya anakku yang saat itu sedang tidur siang. Tiba-tiba Ia berlari dari kamar tidurnya menuju dapur mencari pembantu rumah yang juga sedang panik. “Mbak serem deh, di kamar Abang ada hantunya.. masak tempat tidurnya goyang-goyang terus pintu lemari baju buka tutup sendiri..” katanya ter-engah engah.. “Ya ampun Abang.. itu gempa namanya…”

“ooo gempa..” dan keduanya berlari keluar rumah bercampur dengan tetangga yang sedang berkumpul ditengah jalan.

Dealing with difficult user

Apakah anda pernah menghadapi user yang super ’susah’ ?

yang tidak mengenal kata komproni ?

yang berusaha mencari kesalahan sampai ke lubang semut?

bertubi-tubi e-mail yang saya terima dari user, mulai dari yang meng-gurui, mengejek sampai menghina.

Darah sudah memanjat ke ujung kepala. Pembalasan sudah dipersiapkan.. hhhhh… tunggu tanggal mainnya.

sampai suatu hari dalam perjalanan menuju kantor saya mendengar talkshow di sebuah stasiun radio. Topiknya “Pelajaran kesabaran dari orang yang membenci” intinya bahwa kita sering tidak menyadari bahwa pelajaran kesabaran justru dititipkan melalui orang-orang yang membenci kita. Dan seharusnya kita berterima kasih kepada orang yang membenci.

Sesampainya di kantor, belum selesai mencerna kalimat yang baru kudengar, sebuah email baru muncul di kotak masuk, Hmmm artikel yang diforward dari seorang teman, Subjectnya: Orang Brengsek Guru Sejati – Gde Prama

Baru menelan beberapa paragraph, hati luluh lantak dan bingung. Ternyata?

 Berikut kutipan artikel tsb:

Entah apa dan di mana menariknya, Bank Indonesia amat senang mengundang saya untuk menyampaikan presentasi dengan judul Dealing With Difficult People.

Yang jelas, ada ratusan staf bank sentral ini yang demikian tertarik dantekunnya mendengar ocehan saya. Motifnya, apa lagi kalau bukan dengan niat untuksesegera mungkin jauh dan bebas dari manusia-manusia sulit seperti keras kepala, suka menghina, menang sendiri, tidak mau kerja sama dll.

 Di awal presentasi, hampir semua orang bernafsu sekali untuk membuat manusia sulit jadi baik. Dalam satu hal jelas, mereka yang datang menemui sayamenganggap dirinya bukan manusia sulit, dan orang lain di luar sana sebagian adalah manusia sulit.

 Namun, begitu mereka saya minta berdiskusi di antara mereka sendiri untuk memecahkan persoalan kontroversial, tidak sedikit yang memamerkan perilaku-perilaku manusia sulit. Bila saya tunjukkan perilaku mereka – sepertikeras kepala, menang sendiri, dll ?

 Dan kemudian saya tanya apakah itu termasuk perilaku manusia sulit, sebagian dari mereka hanya tersenyum kecut.

 Bertolak dari sinilah, maka sering saya menganjurkan untuk membersihkan kaca mata terlebih dahulu, sebelum melihat orang lain.

Dalam banyak kasus, karena kita tidak sadar dengan kotornya kaca mata makaorangpun kelihatan kotor.

Dengan kata lain, sebelum menyebut orang lain sulit, yakinlah kalau bukan Anda sendiri yang sulit. Karena Anda amat keras kepala, maka orang berbeda pendapat sedikitpun jadi sulit.

 Karena Anda amat mudah tersinggung, maka orang yang tersenyum sedikit saja sudah membuat Anda jadi kesal.

Nah, pembicaraan mengenai manusia sulit hanya boleh dibicarakan dalam keadaan kaca mata bersih dan bening. Setelah itu, saya ingin mengajak Anda masuk ke dalam sebuah pemahaman tentang manusia sulit.

Dengan meyakini bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup adalah guru kehidupan, maka guru terbaik kita sebenarnya adalah manusia-manusia super sulit.

Terutama karena beberapa alasan.

Pertama, manusia super sulit sedang mengajari kita dengan menunjukkan betapa menjengkelkannya mereka. Bayangkan, ketika orang-orang ramai menyatukanpendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain.

Semakin sering kita bertemu orang-orang seperti ini, sebenarnya kita sedang semakin diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu.

Saya berterimakasih sekali ke puteri Ibu kost saya yang amat kasar dan suka menghina dulu. Sebab, dari sana saya pernah berjanji untuk tidak mengizinkan putera-puteri saya sekasar dia kelak.

Sekarang, bayangan tentang anak kecil yang kasar dan suka menghina, menjadi inspirasi yang amat membantu pendidikan anak-anak di rumah. Sebab, saya pernah merasakan sendiri betapa sakit hati dan tidak enaknya dihina anak kecil.

Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita jadi orang sabar. Sebagaimana sering saya ceritakan, badan dan jiwa ini seperti karet.

Pertama ditarik melawan,namun begitu sering ditarik maka ia akan longgar juga.

Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas kepala, mengurut-urut dada, atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit, itu berarti kita sedang menarik karet ini (baca : tubuh dan jiwa ini) menjadi lebih longgar (sabar).

Saya pernah mengajar sekumpulan anak-anak muda yang tidak saja amat pintar, namun juga amat rajin mengkritik. Setiap di depan kelas saya diuji, dimaki bahkan kadang dihujat. Awalnya memang membuat tubuh ini susah tidur. Tetapi lama kelamaan, tubuh ini jadi kebal.

Ketiga, manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin jempolan. Semakin sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia sulit, ia akan menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya kontribusinya.

Saya tidak mengecilkan peran sekolah bisnis, tetapi pengalaman memimpin dan dipimpin oleh manusia sulit, sudah terbukti membuat banyak sekali orang menjadi pemimpin jempolan. Rekan saya menjadi jauh lebih asertif setelah dipimpin lama oleh purnawirawan jendral yang amat keras dan diktator.

Keempat, disadari maupun tidak manusia sulit sedang memproduksi kita menjadi orang dewasa. Lihat saja, berhadapan dengan tukang hina tentu saja kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang berhobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa tidak enaknya dihina orang lain.

Kelima, dengan sedikit rasa dendam yang positif, manusia super sulit sebenarnya sedang membuat kita jadi hebat. Dimasa kecil,saya termasuk orang yang dibesarkan oleh penghina-penghina saya. Sebab, hinaan mereka membuat saya lari kencang dalam belajar dan berusaha. Dan kemudian, kalau ada kesempatan saya bantu orang-orang yang menghina tadi. Dan betapa besar dan hebatnya diri ini rasanya, kalau berhasil membantu orang yang tadinya menghina kita.

Terakhir dan yang paling penting, manusia super sulit sebenarnya menunjukkan jalan ke surga, serta mendoakan kita masuk surga. Pasalnya, kalau kita berhasil membalas hinaan dengan senyuman, batu dengan bunga, bau busuk dengan bau harum, bukankah kemungkinan masuk surga menjadi lebih tinggi ?.

Tahun ini semua dapat bonus!

 “Guys, info dari pusat..tidak ada bonus tahun ini ya..” kataku kepada team member project di sela-sela rapat dengan User di kota Pontianak.

“Yaahh…” muka-muka yang lelah bertambah kusut setelah mendengar ‘berita duka’ tersebut.

Setelah sampai di Jakarta pun, kasak-kusuk mengenai ‘bonus’ terus berlanjut, mulai dari teman satu PT, sampai ke teman satu Group.

Aku mulai merenung, Apakah benar ‘bonus’ itu sangat berarti buat kita?

Bukankah kita sudah dapatkan ‘bonus lain’ yang lebih besar tahun ini?

Anak, Rumah baru, Mobil baru, Kesehatan, Kebahagiaan, Pekerjaan ?

Older entries »